Komoditi | Jumat, 31 Mei 2019 - 04:04 WIB

Stok AS Turun di Bawah Ekspektasi, Harga Minyak Dunia Merosot

Stok AS Turun di Bawah Ekspektasi, Harga Minyak Dunia Merosot

Author:

Maulidia Septiani

Komoditi

31 Mei 2019

04:04 WIB

Harga minyak mentah dunia merosot hampir 4 persen pada perdagangan Kamis (30/5), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipicu oleh penurunan stok minyak mentah AS yang berada di bawah ekspektasi serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global akibat perang dagang AS-China.

Dilansir dari Reuters, Jumat (31/5), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$2,58 atau 3,7 persen menjadi US$66,87 per barel, terendah sejak 12 Maret 2019.  Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$2,22 atau 3,8 persen menjadi US$56,59 per barel, terlemah sejak 8 Maret 2019.

Sepanjang bulan ini, harga Brent diperkirakan akan merosot sekitar 8 persen dan WTI sekitar 11 persen. Pelemahan kedua harga acuan akan menjadi pelemahan bulanan pertama dalam lima bulan terakhir. Sementara itu, premi Brent terhadap WTI turun menjadi sekitar US$10 per barel atau merosot dari level tertinggi untuk lebih dari empat tahun terakhir, US$11,59 per barel, yang terjadi pada perdagangan Rabu (29/5).

Badan Administrasi Informasi Energi AS mencatat stok minyak mentah AS turun hampir 300 ribu barel sepanjang pekan lalu, lebih rendah dari perkiraan survei analis Reuters yang memprediksi stok tergerus 900 ribu barel. Realisasi stok tersebut juga jauh di bawah laporan Institut Perminyakan AS yang menyatakan penurunan stok minyak Negeri Paman Sam mencapai 5,3 juta barel.

Penurunan yang terjadi pekan lalu memangkas stok minyak mentah AS dari level tertinggi sejak Juli 2017 yang terjadi pada pekan sebelumnya. Namun, dengan jumlah mencapai 476,5 juta barel, stok minyak mentah AS masih 5 persen di atas rata-rata stok di periode yang sama dalam 5 tahun terakhir. Laporan persediaan minyak telah menambah sentimen penekan harga yang berlaku pada sesi perdagangan hari ini. Kekhawatiran pada sisi permintaan yang berasal dari perang dagang AS-China masih tetap menjadi faktor utama penekan harga minyak dunia. Eskalasi perang dagang AS China mewakili risiko pada pasar minyak.

Bernstein Energy menyatakan dalam skenario perang dagang total, permintaan minyak hanya akan tumbuh 0,7 persen tahun ini atau separuh dari estimasi sekarang. Akibat emahnya permintaan, kenaikan harga minyak mentah menjadi terbatas meski pasokan relatif ketat di pasar.

Seorang diplomat China membandingkan aksi perdagangan yang dilakukan AS ibarat teror telanjang pada ekonomi. Di sisi lain, harga minyak mentah pada tahun ini telah ditopang pemangkasan produksi yang dilakukan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya serta oleh penurunan pasokan di Iran dan Venezuela akibat sanksi AS.

Ekspor minyak mentah Iran pada Mei turun separuh dari level April menjadi 400 ribu barel per hari (bph) setelah AS memperketat sanksinya pada sektor andalan Iran itu. Untuk menyeimbangkan neracanya, Iran harus mengekspor setidaknya 1,5 juta hingga 2 juta bph minyak mentah. 

Para pemimpin Arab berkumpul di Arab Saudi untuk menggelar pertemuan darurat di Riyadh. Mereka berharap dapat menyampaikan pesan yang kuat ke Iran bahwa kekuatan kawasan akan mempertahankan kepentingannya melawan ancaman apapun. Bulan ini, aset perminyakan di Negara Teluk sempat diserang. Utusan AS di Iran juga menyatakan AS akan bereaksi dengan mengerahkan pasukan militer jika kepentingannya diserang oleh Iran.

Banyak analis memperkirakan pemangkasan produksi yang dilakukan OPEC akan diperpanjang hingga akhir tahun. Pasalnya, kelompok kartel itu ingin mencegah harga kembali ke level yang terjadi pada akhir 2018 saat Brent tertekan hingga US$50 per barel. Sebagai catatan, sejak OPEC dan sekutunya memangkas produksinya pada Januari lalu, harga minyak saat ini telah terkerek sekitar 30 persen.

Terpopuler