Komoditi | Rabu, 06 Pebruari 2019 - 18:06 WIB

Pasokan Global Mengetat, Harga Minyak Menguat

Pasokan Global Mengetat, Harga Minyak Menguat

Author:

Melia Purvita Sari

Komoditi

06 Pebruari 2019

18:06 WIB

Harga minyak naik sekitar satu persen dipicu dengan  tanda-tanda kuatnya permintaan AS untuk produk distilasi dan pengetatan pasokan minyak mentah global.
 
Akan tetapi, kenaikan harga minyak dibatasi oleh dolar AS yang meningkat dan kekhawatiran yang berlangsung tentang perlambatan ekonomi global.
 
Harga minyak berjangka Brent mengalami kenaikan sebesar 71 sen atau 1,15 persen ke posisi USD 62,69. Pada awal sesi, harga minyak Brent sempat melemah ke posisi USD 61,05.
 
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 35 sen atau 0,65 persen ke posisi USD 54,01 per barel. Harga minyak WTI naik dari posisi rendah USD 52,86.
 
Data pemerintah AS menunjukkan pasokan minyak domestik naik pada pekan lalu. Pasokan minyak naik 1,3 juta barel hingga akhir 1 Februari 2019. Angka ini lebih rendah dari perkiraan analis 2,2 juta barel.
 
Persediaan gasoline naik 513 ribu barel. Sementara itu, pasokan distilasi turun dari yang diharapkan 2,3 juta barel.
 
"Permintaan distilasi yang meningkat tajam pada pekan lalu meski cuaca ekstrim yang berkontribusi terhadap penurunan persediaan distilasi. Semua laporan ini mendorong peningkatan harga minyak dan produk," ujar Analis Commerzbank, Carsten Fritsch, seperti dikutip dari laman Reuters, pada hari Kamis (07.02.2019).
 
Pelaku pasar juga mengantisipasi dan fokus terhadap pengetatan pasokan minyak global usai the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sekutunya mulai memangkas produksi yang disepakati pada Januari.
 
Produsen mulai memangkas 1,2 juta barel per hari sejak bulan lalu untuk antisipasi kelebihan pasokan baru. Berdasarkan survei Reuters menunjukkan OPEC telah mengirimkan hampir tiga perempat dari pemangkasan yang dijanjikannya.
 
Sanksi AS terhadap perusahaan minyak negara Venezuela juga dapat menaikkan harga meski belum memicu kenaikan tajam. Sanksi tersebut untuk memblokir penyuling AS membayar ke akun PDVSA yang dikendalikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
 
Oposisi Venezuela membuka dana AS untuk menerima hasil penjualan minyak, suatu langkah utama untuk mengamankan pendapatan atas upayanya mengusir Maduro. Hal itu seperti disampaikan anggota parlemen oposisi.

Terpopuler

Rabu, 13 Pebruari 2019 - 01:01 WIB
Keuangan dan Bisnis
IHSG Diramal Tertekan
Selasa, 29 Januari 2019 - 04:04 WIB
Forex
Wall Street Bergerak Campuran