Komoditi | Kamis, 05 November 2020 - 10:10 WIB

Pasca Klaim Kemenangan Capres AS, Harga Minyak Dunia Melonjak

Pasca Klaim Kemenangan Capres AS, Harga Minyak Dunia Melonjak

Author:

Maulidia Septiani

Komoditi

05 November 2020

10:10 WIB

Harga minyak naik hampir 4 persen pada akhir perdagangan Rabu (4/11) sore waktu AS atau Kamis (5/11) pagi WIB. Kenaikan terjadi setelah Presiden Donald Trump mengklaim kemenangan dalam pemilihan AS. Kenaikan juga ditopang data penurunan pasokan dan persediaan minyak mentah AS.

Mengutip Antara, Kamis (5/11), minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember mengakhiri sesi dengan menguat US$1,49 atau 4 persen ke level US$39,15 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari ditutup menguat US$1,52 atau 3,8 persen ke level US$41,23 per barel.

Trump mengklaim telah memenangkan pilpres AS. Klaim dibuat setelah penantangnya dari Demokrat Biden, mengatakan dia yakin akan memenangkan pilpres. Setelah klaim tersebut dibuat, Wall Street melonjak dan dolar AS menguat terhadap sekelompok mata uang. Pasalnya, klaim dan hasil pemilihan yang terlalu ketat membuat pelaku pasar berspekulasi bahwa Senat akan terbelah sikap mereka dalam menjaga supaya stimulus tetap mengalir.

Kemenangan Trump dalam pilpres AS dipandang pasar sebagai bullish untuk minyak. Pasalnya, kebijakannya memberlakukan sanksi terhadap Iran dan dukungannya untuk pemotongan produksi minyak bakal mendukung harga.

Hal berbeda terjadi jika Joe Biden yang menang. Itu akan dilihat sebagai bearish hingga netral bagi harga minyak. Pasalnya, Biden mendukungan kebijakan hijau dan bersahabat terhadap Iran.

Sebagai informasi, kedua jenis minyak itu sudah mengalami kenaikan ke sesi tertinggi setelah data menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 8,0 juta barel pekan lalu ketika Badai Zeta membuat produksi di Teluk Meksiko tertekan. Ekspor minyak mentah mingguan AS turun 1,2 juta barel per hari (bph) menjadi sekitar 2,3 juta bph pekan lalu. Itu merupakan penurunan terbesar sejak Januari.

Di sisi lain, produksi minyak turun 600 ribu bph menjadi 10,5 juta bph.Selain sentimen itu, harga minyak juga didukung oleh kemungkinan produsen OPEC dan Rusia mempertimbangkan menunda rencana kenaikan produksi minyak OPEC+ mulai Januari karena gelombang virus corona kedua menghambat pemulihan permintaan bahan bakar.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sebelumnya setuju untuk mengurangi pemotongan sebesar dua juta barel per hari dari 7,7 juta barel per hari saat ini mulai Januari. Namun, penguncian lebih lanjut dapat membatasi kenaikan harga minyak dan membebani permintaan. Italia, Norwegia, dan Hongaria telah memperketat pembatasan virus corona, mengikuti Inggris, Prancis, dan negara lain. Inggris mencatat 492 kematian baru COVID-19 pada Rabu (4/11/2020), jumlah korban terbesar sejak 13 Mei dan naik dari 397 pada Selasa (3/11/2020), data pemerintah menunjukkan.
 

Terpopuler