Komoditi | Senin, 07 September 2020 - 11:11 WIB

Minyak Tertekan Hebat Sepanjang Pekan Lalu

Minyak Tertekan Hebat Sepanjang Pekan Lalu

Author:

Maulidia Septiani

Komoditi

07 September 2020

11:11 WIB

Harga minyak jatuh di atas tiga persen pada akhir perdagangan Jumat (4/9) atau Sabtu (5/9) dan membukukan penurunan mingguan terbesar sejak Juni karena kekhawatiran pasar terhadap pemulihan ekonomi yang lambat akibat pandemi covid-19.
Sentimen tersebut menambah kekhawatiran pasar tentang permintaan minyak yang lemah.

Dikutip dari Antara, Senin (7/9), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November, merosot US$1,41 atau 3,2 persen ke US$42,66 per barel.

Sementara itu minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun US$1,60 atau 3,9 persen ke US$39,77 per barel.

Dengan kondisi tersebut, minyak mentah Brent telah merosot 5,3 persen selama sepekan kemarin dan WTI melemah 7,4 persen.

Harga tertekan oleh penurunan berkepanjangan di pasar ekuitas AS dan oleh laporan yang menunjukkan pertumbuhan pekerjaan AS melambat lebih jauh pada Agustus, ketika bantuan keuangan dari pemerintah habis.

Data penggajian (payrolls) non-pertanian AS meningkat sebanyak 1,37 juta pekerjaan bulan lalu, meskipun pekerjaan masih 11,5 juta di bawah tingkat pra-pandemi dan tingkat pengangguran 4,9 poin persentase lebih tinggi daripada Februari.

Tingkat pengangguran turun menjadi 8,4 persen bulan lalu, dibandingkan dengan perkiraan 9,8 persen, yang menurut beberapa analis pasar akan mengurangi urgensi di Washington D.C. untuk mengesahkan undang-undang stimulus ekonomi tambahan.

Harapan untuk lebih banyak stimulus tidak lagi berpengaruh. Kami perlu melihat aktivitas ekonomi kembali naik untuk mendapatkan aliran permintaan. 

Sebuah laporan pemerintah AS minggu ini menunjukkan permintaan bensin domestik telah turun lagi. Sementara persediaan distilat di pusat minyak Singapura di Asia telah melampaui level tertinggi sembilan tahun.

"Gambaran pasar yang lebih besar adalah sentimen bearish secara keseluruhan yang dimulai dengan laporan permintaan bensin yang lebih rendah pada Rabu," kata Paola Rodriguez-Masiu, analis di Rystad Energy.

Terpopuler