Komoditi | Selasa, 08 Desember 2020 - 11:11 WIB

Ketegangan AS-China Redam Harga Minyak Dunia

Ketegangan AS-China Redam Harga Minyak Dunia

Author:

Maulidia Septiani

Komoditi

08 Desember 2020

11:11 WIB

Harga minyak mentah dunia berbalik melemah pada Senin (7/12), waktu Amerika Serikat (AS). Penurunan harga sekitar 1 persen terjadi karena meningkatnya ketegangan antara AS dengan China dan peningkatan jumlah kasus positif virus corona atau covid-19.
Melansir Antara, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari turun 46 sen atau 0,9 persen menjadi US$48,79 per barel di London ICE Futures Exchange. Begitu juga dengan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 50 sen atau 1,1 persen US$45,76 per barel di New York Mercantile Exchange.

Ketegangan antara AS-China tengah meningkat dipicu rencana AS memberi sanksi ke sejumlah pejabat China atas dugaan peran mereka dalam diskualifikasi Beijing terhadap legislator oposisi terpilih di Hong Kong. Ketegangan antar kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu sontak menekan harga minyak karena China merupakan importir minyak mentah terbesar dunia. Sementara ketegangan dikhawatirkan mengganggu produksi dan industri di Negeri Tirai Bambu. Total impor minyak China mencapai 503,92 juta ton atau 10,98 juta barel per hari pada Januari-November 2020. Jumlahnya naik 9,5 persen dari Januari-November 2019.

Di saat yang sama, kasus positif virus corona meningkat di beberapa negara bagian AS, seperti California. Lalu juga meningkat lagi di Jerman dan Korea Selatan. Imbasnya, konsumsi bensin di AS turun selama pekan libur Thanksgiving ke level terendah dalam lebih dari 20 tahun. Oil Price Information Service (OPIS) menduga hal ini karena lebih sedikit orang AS yang bepergian selama pandemi. Di sisi lain, sentimen dari AS-China menutup sinyal baik dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) ditambah Rusia atau OPEC+. Sebelumnya, OPEC+ sudah menyetujui peningkatan tipis pada produksi minyak mulai Januari 2021. Hal ini membuat kontrak minyak naik sekitar 2 persen pada pekah lalu. "Mereka (OPEC+) tetap sedikit pelit dalam hal pasokan selama puncak musim dingin di belahan bumi utara," kata Analis Again Capital LLC John Kilduff.

Capital Economics, sebuah perusahaan riset ekonomi, memperkirakan produksi OPEC+ akan naik kurang dari yang diizinkan di perjanjian baru. Hal ini karena pemotongan kompensasi dan permintaan kuartal pertama yang cenderung lemah. Sedangkan Morgan Stanley, lembaga riset ekonomi internasional memperkirakan harga minyak Brent akan meningkat dari kisaran US$45 ke US$47,5 per barel akibat rencana OPEC+. Sementara WTI mungkin naik dari US$42,5 menjadi US$45 per barel. Terlepas dari OPEC+, Iran menginstruksikan kementerian energinya untuk mempersiapkan instalasi untuk menjamin produksi dan penjualan minyak mentah dengan kapasitas penuh dalam tiga bulan ke depan. Yang menambah tekanan pada harga minyak adalah potensi peningkatan produksi Iran dalam tiga bulan.

Terpopuler