Komoditi | Kamis, 27 Juni 2019 - 01:01 WIB

Harga Minyak Naik 2% Imbas Persediaan Merosot

Harga Minyak Naik 2% Imbas Persediaan Merosot

Author:

Melia Purvita Sari

Komoditi

27 Juni 2019

01:01 WIB

Harga minyak naik lebih dari dua persen dan mencapai level tertinggi dalam satu bulan. Hal tersebut didukung data pemerintah Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan penarikan lebih besar dari yang diperkirakan dalam stok minyak mentah.
 
Hal ini karena ekspor mencapai rekor tertinggi dan penurunan stok produk olahan. Harga minyak Brent berjangka naik USD 1,44 atau 2,2 persen ke posisi USD 66,49 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat USD  1,55 atau 2,7 persen menjadi USD 59,38 per barel.
 
Persediaan minyak mentah turun 12,8 juta barel pada pekan lalu. The Energy Information Administration (EIA) mengatakan, angka itu jauh melampaui harapan analis untuk penurunan 2,5 juta barel.
 
Impor minyak mentah AS turun sebesar 1,2 juta barel per hari pada pekan lalu. Ekspor minyak mentah keseluruhan naik menjadi 3,8 juta barel per hari, yang mengalahkan rekor sebelumnya 3,6 juta barel per hari pada bulan Februari.
 
"Banyak penarikan ini karena permintaan yang kuat. Kami akhirnya melihat dampak dari pengurangan produksi OPEC dan mulai melihat pengurangan di Venezuela," ujar salah satu Analis, pada hari Kamis (27.06.2019).
 
Data EIA menunjukkan, stok bensin turun 996 ribu barel, sementara stok sulingan susut 2,4 juta barel.
 
Penarikan produksi terjadi bersamaan dengan berita kalau kilang minyak terbesar dan tertua di Pantai Timur AS akan ditutup setelah kebakaran besar pada pekan lalu yang menyebabkan kerusakan besar.
 
Philadelphia Energy Solutions (PES) berencana menutup komplek kilang dengan produksi 335 ribu barel per hari pada bulan depan.
 
Harga bensin AS pun naik empat persen setelah naik ke posisi tertinggi sejak tanggal 23 Mei. "Karena data EIA mungkin tidak mengambil dampak penuh penurunan PES, pengurangan tajam tambahan dalam pasokan bensin PADDD 1 mungkin muncul pada data EIA pekan depan," ujar dia.
 
Melemahnya persediaan minyak mentah dan pemadaman kilang menambah ketidakpastian atas persediaan minyak mentah.
Hal ini juga didorong dari perang pernyataan dari pemerintahan AS dan iran yang memicu kekhawatiran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, rute pasokan minyak tersibuk di dunia dapat terganggu.
 
Terkait perang dagang apakah sedang terjadi, Presiden AS Donald Trump menyatakan kalau pihaknya tidak ingin melakukannya. Akan tetapi, pihaknya menyatakan dalam posisi kuat jika sesuatu terjadi. "Teheran telah mengecam putaran baru sanksi AS sebagai keterbelakangan mental," kata dia.
 
Ketegangan bilateral melonjak lagi usai Iran menembak jatuh drone AS pada pekan lalu. Hubungan tegang sejak pemerintahan AS menyalahkan serangan terhadap tanker minyak di luar teluk Iran. Sementara pemerintahan Iran telah membantah peran apapun.
 
Dalam jangka panjang, pasar akan menyaksikan pertemuan G20 pada akhir pekan ini diikuti oleh pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non-OPEC pada tanggal 1-2 Juli.
 
OPEC akan membahas perpanjang pemotongan produksi pada semester II 2019. Berdasarkan sumber, produksi rata-rata minyak Rusia adalah 11,15 juta barel per hari pada 1-25 Juni, naik dari rata-rata 11,04 juta barel per hari selama 1-10 Juni.
 

Terpopuler