Komoditi | Senin, 11 Maret 2019 - 10:10 WIB

Harga Minyak Mentah Menguat Terbatas Sepanjang Pekan Lalu

Harga Minyak Mentah Menguat Terbatas Sepanjang Pekan Lalu

Author:

Maulidia Septiani

Komoditi

11 Maret 2019

10:10 WIB

Harga minyak mentah dunia menguat sepanjang pekan lalu, masih dipicu pelaksanaan kebijakan pemangkasan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Namun, hal itu dibatasi sentimen perlambatan ekonomi yang melemahkan permintaan minyak global.

Senin (11/3), harga minyak mentah berjangka Brent menguat sekitar 1 persen sepanjang pekan lalu. Tercatat, harga Brent pada perdagangan Jumat (8/3) ditutup di level US$65,74 per barel. Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) sebesar 0,5 persen menjadi US$56,07 per barel. 

Di sisi pasokan, harga minyak telah mendapatkan topangan tahun dari kebijakan pemangkasan produksi OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia. Kebijakan pemangkasan produksi hingga 1,2 juta bph itu mulai berlaku efektif sejak Januari 2019 dan akan berlaku selama 6 bulan. Dari kalangan pelaku industri menyatakan minyak mentah Arab Saudi pada Februari 2019 turun menjadi 10,136 juta barel per hari (bph). 

Selain itu, pasokan juga mengetat karena pengenaan sanksi AS kepada Venezuela dan Iran yang juga merupakan anggota OPEC. Namun, Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri dari Kementerian Keuangan AS menyatakan Gedung Putih memberikan waktu kepada individu maupun entitas untuk menyelesaikan kontrak keuangan atau kesepakatan lain dengan perusahaan minyak pelat merah Venezuela.

Dari sisi permintaan, harga minyak mendapatkan tekanan. Hal itu tak lepas dari sentimen pelemahan perekonomian global. 

Pertumbuhan lapangan kerja AS hampir tak bergerak pada Februari 2019 lalu mengingat hanya menciptakan 20 ribu lapangan kerja di tengah kontraksi pada upah di konstruksi dan beberapa sektor lain. Laporan tersebut menyeret kinerja pasar saham AS dan harga minyak berjangka pada Jumat (8/3) lalu. 


Pasar keuangan juga mendapatkan hantaman menyusul pernyataan Gubernur Bank Sentral Eropa Mario Draghi pada Kamis (7/3) waktu setempat. Draghi menyatakan perekonomian Eropa berada di periode pelemahan yang berlanjut.  Jika kita lihat pasar ekuitas terus tertekan, secara bertahap ini akan menyeret harga energi lebih rendah bersamanya. Pelemahan perekonomian Eropa dan AS juga terjadi seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi di Asia. 

Ekspor China pada Februari lalu merosot 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, penurunan terbesar dalam tiga tahun. Realisasi tersebut juga jauh di bawah prediksi analis yang memperkirakan penurunan sebesar 5,2 persen. Sejauh ini, permintaan minyak masih bertahan, khususnya di China yang impor minyak mentahnya masih di atas 10 juta bph. Namun demikian, perlambatan pertumbuhan ekonomi pada akhirnya mengurangi konsumsi bahan bakar dan menekan harga. 

Sementara itu, produksi minyak mentah AS menanjak lebih dari 2 juta bph sejak awal 2018 menjadi 12,1 juta bph. Kondisi itu menjadikan AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia. Bank investasi AS Jefferies menyatakan pertumbuhan produksi minyak AS utamanya berasal dari melesatnya produksi minyak shale di darat. Melonjaknya produksi minyak shale tak lepas dari investasi yang ditanamkan oleh Exxon Mobil dan Chevron. 

Kendati demikian, Baker Hughes mencatat perusahaan energi AS pekan lalu memangkas jumlah rig yang beroperasi ke level terendah selama 10 bulan terakhir. Pemangkasan itu terjadi selama tiga pekan berturut-turut. Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS juga melaporkan perusahaan manajemen investasi dan para spekulator mengerek kombinasi posisi kontrak berjangka dan opsi di New York dan London sebesar 21.416 kontrak menjadi 155.426 kontrak pada pekan yang berakhir 5 Maret 2019.

Terpopuler