Komoditi | Rabu, 22 September 2021 - 14:02 WIB

Harga Minyak Menguat Pengaruh Potensi Kenaikan Permintaan

Harga Minyak Menguat Pengaruh Potensi Kenaikan Permintaan

Author:

Maulidia Septiani

Komoditi

22 September 2021

14:02 WIB

Harga minyak dunia naik pada perdagangan Selasa (21/9), waktu setempat. Kenaikan harga minyak terseret potensi kenaikan permintaan setelah negara-negara penghasil utama minyak atawa OPEC memompa pasokan.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November naik 44 sen menjadi US$74,36 per barel, setelah turun hampir dua persen pada hari sebelumnya. Sementara, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik 27 sen menjadi US$70,56 per barel, setelah anjlok 2,3 persen di sesi sebelumnya. Sedang, kontrak November yang lebih aktif naik 35 sen menjadi US$70,49 per barel. Kontrak Brent dan WTI November sebelumnya mencapai tertinggi sesi masing-masing US$75,18 per barel dan US$71,48 per barel. Ini sedikit kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang dampak potensial dari permintaan ke depan.

Kantor berita TASS mengatakan Rusia percaya permintaan minyak global mungkin tidak pulih ke puncaknya pada 2019 atau sebelum pandemi. Hal ini dikarenakan keseimbangan energi bergeser. Namun, OPEC dan sekutunya, dikenal OPEC+, berjuang untuk memompa cukup minyak pada Agustus guna memenuhi konsumsi saat ini karena dunia mulai pulih dari pandemi covid-19.

Beberapa negara juga menunjukkan kesenjangan pasokan dengan permintaan yang diartikan permintaan minyak bisa meningkat. Namun, investor di seluruh aset keuangan diguncang dampak dari krisis utang China Evergrande yang telah merusak nilai aset di pasar berisiko seperti ekuitas. Pedagang khawatir hal itu dapat memicu efek domino di perusahaan-perusahaan besar yang didorong oleh utang China, dan efek bearish bergulir untuk harga-harga saham dan komoditas. Namun, mengingat bahwa semua bank besar China dan lembaga pemberi pinjaman dikendalikan oleh pemerintah, ada secercah harapan di pasar bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia itu akan mampu menyerap gelombang kejut dari Evergrande.

Selain itu, The Federal Reserve atau bank sentral AS diperkirakan mulai memperketat kebijakan moneter, yang dapat mengurangi toleransi investor terhadap aset-aset berisiko seperti minyak. Produksi minyak AS masih belum pulih dari badai yang melanda kawasan Pantai Teluk. Royal Dutch Shell, produsen minyak terbesar Teluk Meksiko AS, mengatakan bahwa kerusakan fasilitas transfer lepas pantai dari Badai Ida akan memangkas produksi hingga awal tahun depan. 

Sekitar 18 persen dari minyak Teluk AS dan 27 persen dari produksi gas alamnya masih offline, lebih dari tiga minggu setelah Badai Ida. Persediaan minyak mentah, bensin, dan sulingan AS turun pekan lalu, menurut sumber pasar, mengutip angka American Petroleum Institute (API), yang disebabkan banyak kilang dan fasilitas pengeboran lepas pantai tetap tutup setelah Badai Ida.

Data dari sumber anonim menunjukkan stok minyak mentah turun 6,1 juta barel untuk pekan yang berakhir 17 September. Persediaan bensin turun 432.000 barel dan stok sulingan turun 2,7 juta barel. Data resmi pemerintah AS akan dirilis pada Rabu waktu setempat.
 

Terpopuler