Komoditi | Rabu, 23 Desember 2020 - 13:01 WIB

Harga Minyak Anjlok Setelah Ada Virus Corona Jenis Baru di Inggris

Harga Minyak Anjlok Setelah Ada Virus Corona Jenis Baru di Inggris

Author:

Maulidia Septiani

Komoditi

23 Desember 2020

13:01 WIB

Harga minyak dunia anjlok hampir 3 persen pada penutupan perdagangan Selasa (22/12) akibat lockdown yang dilakukan sejumlah negara terhadap Inggris usai menyebarnya virus corona jenis baru di negara tersebut.

Mengutip Antara, Selasa (22/12), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari merosot US$1,35 atau 2,6 persen dan ditutup pada US$50,91 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari turun US$1,36 atau 2,8 persen lebih rendah ke posisi US$47,74 per barel. Adapun WTI untuk kontrak Februari turun US$1,27 atau 2,6 persen dan menetap di US$47,97 per barel.

Virus corona jenis baru menyebar di Inggris. Peneliti menyebut varian baru virus corona SARS-CoV-2 yang ditemukan di Inggris itu lebih menular. 
Kemunculan varian baru itu meningkatkan ketakutan terhadap bahaya covid-19 yang telah menewaskan sekitar 1,7 juta orang di seluruh dunia.

Banyak negara mulai menutup perbatasan mereka ke Inggris pada Senin (21/12) dan menyebabkan kekacauan perjalanan dan meningkatkan prospek kekurangan pangan di Inggris. Temuan tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa ekonomi akan kembali tertekan sehingga bisa mempengaruhi permintaan bahan bakar. Alhasil, Brent yang pekan lalu naik di atas US$50 untuk pertama kalinya sejak Maret kembali terpuruk. Jenis baru virus corona di Inggris telah menunjukkan kepada kita bahwa optimisme vaksin yang menahan Brent di atas 50 dolar AS per barel dapat dikempiskan dalam sekejap.

Selain sentimen itu, minyak juga mendapatkan tekanan dari penguatan dolar AS. Greenback yang kuat membuat komoditas dalam denominasi dolar seperti minyak mentah lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Laporan terkait jenis baru virus corona telah membebani sentimen aset berisiko dan minyak. Pembatasan mobilitas baru di seluruh Eropa juga tidak membantu karena permintaan minyak Eropa akan terganggu.
 

Terpopuler