Komoditi | Selasa, 14 Mei 2019 - 01:01 WIB

Harga Emas Semakin Mengkilap Usai China Pukul Balik AS

Harga Emas Semakin Mengkilap Usai China Pukul Balik AS

Author:

Melia Purvita Sari

Komoditi

14 Mei 2019

01:01 WIB

Harga emas naik dan berada di jalur penguatan terbaik dalam tiga bulan pada perdagangan di hari Senin. Penguatan harga emas ini terjadi karena investor mencari tempat lindung nilai (safe haven) dari gejolak pasar yang dipicu oleh pengumuman China bahwa mereka akan membalas AS.
 
Mengutip CNBC, pada hari Selasa (14.05.2019), harga emas di pasar spot naik 1,1 persen menjadi USD 1.299,30 per ounce, setelah mencapai USD 1,301,10 per ounce, tertinggi sejak tanggal 11 April.
 
Harga logam mulia ini berada di jalur untuk menandai kenaikan persentase satu hari terbesar sejak tanggal 19 Februari.
 
Sedangkan untuk harga emas berjangka AS menetap 1,1 persen lebih tinggi pada USD 1.301,80 per ounce.
 
"Kami melihat bahwa saat ini investor tengah mencari tempat aman setelah adanya gangguan dalam pembicaraan perdagangan dan China berbicara tentang pembalasan,"ujar dia.
 
"Risiko geopolitik meningkat, ketegangan perdagangan meningkat, dolar AS turun dan ekuitas benar-benar di bawah tekanan. Semua faktor ini meningkatkan harga emas sekarang." ia menambahkan.
 
China mengatakan pada hari Senin bahwa mereka akan menaikkan tarif pada sejumlah barang AS, menyerang kembali dalam perang dagang dengan Washington tak lama setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkannya untuk tidak membalas.
 
Langkah ini membebani pasar ekuitas di seluruh dunia dan mendorong imbal hasil Treasury AS yang lebih panjang ke level terendah enam minggu.
 
Indeks dolar AS juga jatuh ke palung terdalam dalam tiga pekan sehingga membuat harga emas lebih murah bagi investor yang melakukan transaksi dengan mata uang di luar dolar AS.
 
Harga emas sebelumnya sempat mencapai USD 1.281,35 per ounce yang merupakan level terendah dalam satu sesi perdagangan karena meningkatnya kekhawatiran perdagangan membebani yuan sehingga mengurangi permintaan pembelian emas terbesar di dunia yaitu Cina.
 
Mata uang Tiongkok turun ke level terendah terhadap dolar AS sejak Desember.
 
"Emas telah tertinggal lebih awal, tetapi pengumuman tarif China memberi tekanan lebih besar pada ekuitas," kata Tai Wong, kepala perdagangan derivatif logam mulia dan dasar di BMO.
 
"Jadi ini adalah pembelian spekulatif berdasarkan pada stok yang lebih rendah dan hasil yang lebih rendah dengan terobosan teknis pada momentum kenaikan naik." tutur dia.
 
Di sisi investasi, spekulan menaikkan posisi net-long dalam emas di pekan yang berakhir tanggal 7 Mei.

Terpopuler

Rabu, 13 Pebruari 2019 - 01:01 WIB
Keuangan dan Bisnis
IHSG Diramal Tertekan
Selasa, 29 Januari 2019 - 04:04 WIB
Forex
Wall Street Bergerak Campuran