Keuangan dan Bisnis | Senin, 21 Januari 2019 - 21:09 WIB

Wall Street Jatuh Karena Prospek Ekonomi Global Suram

Wall Street Jatuh Karena Prospek Ekonomi Global Suram

Author:

Melia Purvita Sari

Keuangan dan Bisnis

21 Januari 2019

21:09 WIB

Wall Street harus berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan di hari Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Pendorong utama pelemahan bursa saham di Amerika Serikat (AS) tersebut karena prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang suram dan pembicaraan perang dagang yang belum sampai ujungnya.
 
Mengutip Reuters, pada hari Rabu (23.01.2019), Dow Jones Industrial Average turun 301,87 poin atau 1,22 persen menuju 24.404,48. Untuk S&P 500 kehilangan 37,81 poin atau 1,42 persen menjadi 2.632,9. Sedangkan Nasdaq Composite turun 136,87 poin atau 1,91 persen menjadi 7.020,36.
 
Ketiga indeks saham utama di Wall Street jatuh tersungkur usai penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow membantah laporan dari Financial Times yang menuliskan bahwa administrasi Trump membatalkan pembicaraan perdagangan dengan China.

Ketiga indeks utama tersebut yaitu S&P 500, Nasdaq dan Dow Jones semua membukukan penurunan persentase satu hari terbesar sejak tanggal 3 Januari.
 
Pada hari Senin, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memangkas estimasi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2019 dan China juga mengkonfirmasi tingkat pertumbuhan ekonomi paling lambat dalam 28 tahun.
 
"Tampaknya ada banyak berita negatif mengenai ekonomi global dan China sedangkan keuntungan perusahaan yang dilaporkan hari ini tidak dapat mengimbangi hal itu," kata Chuck Carlson, chief executive officer Horizon Investment Services, Hammond, Indiana, AS.
 
"Banyak emiten di Wall Street akan mengeluarkan laporan kinerja atau pendapatan pada hari minggu ini. Jadi ini akan menjadi pertempuran antara pendapatan dan persepsi tentang apa yang terjadi di China dan pasar global," tambah Carlson.
 
Sentimen mengenai perlambatan pertumbuhan China mendorong penurunan saham-saham perusahaan pembuat chip. Philadelphia SE Semiconductor index turun 2,9 persen.
 
Sedangkan untuk perusahaan teknologi lainnya yang bergabung dalam FAANG Facebook Inc, Apple Inc, Amazon.com, Netflix Inc dan induk usaha Google yaitu Alphabet Inc berakhir turun di antara 1,6 persen hingga 4,1 persen.
 
Beberapa perusahaan lain di luar sektor teknologi juga mengalami tekanan. Kekhawatiran akan melambatnya laba perusahaan meningkat karena perusahaan tersebut memberikan proyeksi ke depan yang mengecewakan.
Johnson & Johnson turun 1,4 persen setelah perkiraan penjualan pada 2019 jatuh di bawah ekspektasi analis.
 
Saham Stanley Black & Decker Inc melemah 15,5 persen setelah perkiraan 2019 yang mengecewakan juga.
 
Hampir semua sektor utama pembentuk S&P 500, mengalami tekanan. Hanya ada satu sektor yang menghijau yaitu utilitas.
 

Terpopuler

Rabu, 13 Pebruari 2019 - 01:01 WIB
Keuangan dan Bisnis
IHSG Diramal Tertekan
Selasa, 29 Januari 2019 - 04:04 WIB
Forex
Wall Street Bergerak Campuran