Keuangan dan Bisnis | Senin, 28 September 2020 - 09:09 WIB

Rupiah Melemah ke Rp14.875 per Dolar AS pagi ini

Rupiah Melemah ke Rp14.875 per Dolar AS pagi ini

Author:

Maulidia Septiani

Keuangan dan Bisnis

28 September 2020

09:09 WIB

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.875 per dolar AS pada perdagangan pasar spot pagi ini. Posisi tersebut melemah 0,02 persen dibandingkan perdagangan Jumat (25/9) sore di level Rp14.872 per dolar AS.

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,10 persen, dolar Singapura menguat 0,10 persen, dolar Taiwan menguat 0,21 persen, dan peso Filipina menguat 0,09 persen. Kemudian, ada rupee India yang menguat 0,39 persen, yuan China menguat 0,09 persen dan ringgit Malaysia menguat 0,02 persen. Hanya bath Thailand dan won Korea Selatan saja yang terpantau melemah masing-masing sebesar melemah 0,01 persen dan 0,09 persen.

Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,13 persen, dolar Australia melemah 0,26 persen, franc Swiss melemah 0,09 persen, dan dolar Kanada melemah 0,01 persen.

Menurut Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra, pergerakan aset berisiko di pasar Asia pagi ini sebenarnya positif dengan indeks saham Asia naik dan nilai tukar regional juga menguat terhadap dolar AS. Sentimen positif tersebut didorong oleh data mentereng dari Tiongkok yang rilis Minggu (27/9) di mana profit industri negeri tersebut tercatat tumbuh 19,1 persen pada Agustus 2020. Industri Tiongkok tercatat selalu mengalami pertumbuhan profit sejak bulan Mei setelah pandemi berakhir di Tiongkok yang menunjukkan pemulihan ekonomi di negara tersebut.

Lanjutnya, hari ini rupiah bisa ikut terdorong menguat mengikuti sentimen positif tersebut dengan potensi kisaran di Rp14.750-14.850 per dolar AS.

Di sisi lain, pasar masih mewaspadai perkembangan pandemi yang masih terus menaik yang bisa mendorong pemerintah untuk menerapkan lockdown kembali sehingga bisa memperlambat pemulihan ekonomi dan menekan kembali aset berisiko.
 

Terpopuler