Keuangan dan Bisnis | Kamis, 09 April 2020 - 09:09 WIB

Pidato Trump Bikin Rupiah Bertenaga ke Rp16.206 per Dolar AS

Pidato Trump Bikin Rupiah Bertenaga ke Rp16.206 per Dolar AS

Author:

Maulidia Septiani

Keuangan dan Bisnis

09 April 2020

09:09 WIB

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp16.206 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (9/4) pagi. Rupiah menguat 44 poin poin atau 0,27 persen dari Rp16.250 per dolar AS pada hari sebelumnya. Rupiah menguat bersama beberapa mata uang negara-negara kawasan Asia lain, seperti won Korea Selatan menguat 0,51 persen, ringgit Malaysia 0,15 persen, dan peso Filipina 0,1 persen. Sementara dolar Hong Kong stagnan.

Sedangkan yen Jepang minus 0,11 persen, baht Thailand minus 0,09 persen, dolar Singapura minus 0,01 persen. Di negara maju, hanya dolar Kanada yang melemah 0,01 persen dari dolar AS. Sisanya, berhasil bersandar di zona hijau. Poundsterling Inggris menguat 0,16 persen, euro Eropa 0,09 persen, rubel Rusia 0,07 persen, franc Swiss 0,04 persen, dan dolar Australia 0,04 persen.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di rentang Rp16.150 sampai Rp16.350 per dolar AS pada hari ini karena pengaruh sentimen yang bervariasi. Rupiah akan terpengaruh sentimen positif dari optimisme perbaikan laju perekonomian AS bila penyebaran pandemi virus corona atau covid-19 berakhir.

Optimisme ini muncul karena pengaruh pidato Presiden AS Donald Trump. Menurut Trump, virus corona akan berakhir karena pemerintah terus melakukan penanganan melalui paket stimulus ekonomi. Sentimen positif datang dari penguatan pasar saham AS semalam merespons pidato Trump.

Kendati begitu, kurs rupiah sejatinya masih dibayangi sentimen negatif, yaitu jumlah kasus positif virus corona yang masih bertambah dari berbagai negara di dunia. Saat ini, jumlah kasus positif di dunia mencapai 1,51 juta, dengan 88.415 orang di antaranya meninggal dunia dan 329.329 orang sembuh.

Jumlah kasus terbanyak ada di AS mencapai 430 ribu, Spanyol 148 ribu, Italia 139 ribu, Prancis 113 ribu, dan Jerman 113 ribu. Diikuti China 82 ribu, Iran 64 ribu, dan Inggris 61 ribu. Sentimen negatif datang dari angka penyebaran wabah global yang semakin meningkat, namun belum bisa dikatakan sudah mencapai puncaknya dan justru kemungkinan memburukkan data-data ekonomi.

Terpopuler