Forex | Senin, 10 Pebruari 2020 - 10:10 WIB

Saham Blue Chip Bisa Dilirik Ketika Cadangan Devisa Naik

Saham Blue Chip Bisa Dilirik Ketika Cadangan Devisa Naik

Author:

Maulidia Septiani

Forex

10 Pebruari 2020

10:10 WIB

Rilis cadangan devisa Januari 2020 menunjukkan modal asing masih mengalir masuk ke Indonesia. Tercatat cadangan devisa hingga akhir Januari 2020 sebesar US$131,7 miliar.

Angka ini naik sebesar US$2,5 miliar dibandingkan bulan sebelumnya yang US$129,2 miliar. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengungkap perkembangan cadangan devisa pada Januari 2020 dipengaruhi oleh penerimaan global bond pemerintah, devisa migas, dan penerimaan valas lainnya.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,8 bulan impor atau 7,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional yang sekitar 3 bulan impor.

Sejumlah analis memproyeksikan rilis cadangan devisa yang positif tersebut akan direspons positif oleh pasar. Namun demikian diproyeksikan para investor masih akan bermain aman di pasar saham.

Menurut mereka, saham blue chip yang bernilai tinggi dibanding yang lainnya.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan saham-saham blue chip dapat dijadikan opsi setelah IHSG berhasil kembali menguat. Ini artinya sentimen pelemahan telah mereda dan kepercayaan investor terhadap IHSG telah kembali.

"Saham-saham blue chip sudah bisa dilirik kembali di mana IHSG juga mulai menguat di 5.940," jelasnya kepada CNNIndonesia.com.

William mengatakan kenaikan cadangan devisa akan mendongkrak kinerja saham blue chip sektor perbankan dan properti. Dari sektor perbankan ia merekomendasikan saham Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

Kedua saham blue chip ini pada penutupan Jumat (7/2) terpantau memiliki kinerja positif. BBCA berakhir di level Rp33.800 per saham dengan kenaikan 0,30 persen.

Sementara itu BBRI ditutup tak berubah di level Rp4.550 per saham. BRI pada 2019 membukukan laba sebesar Rp34,41 triliun atau naik 6,15 persen dari 2018 yang berada di kisaran Rp32,4 triliun.

Pertumbuhan kredit mikro menjadi salah satu penyokong utama kinerja BRI. Per Desember 2019 tercatat penyaluran kredit BBRI mencapai Rp908,88 triliun atau tumbuh 8,44 persen yoy. Pertumbuhan tersebut di atas rata-rata yang dicapai industri perbankan yang tumbuh 6,08 persen.

Pertumbuhan signifikan lainnya ditunjukkan pertumbuhan kredit ritel yang tumbuh 12,8 persen yoy menjadi Rp269,64 triliun per Desember 2019. Sementara untuk Dana Pihak Ketiga (DPK), BRI berhasil menembus Rp1.029,39 triliun atau naik 8,17 persen yoy.

William memprediksikan kenaikan tipis untuk saham Bank Rakyat Indonesia dengan target harga di level Rp4.600 dan Bank Central Indonesia di kisaran Rp34ribu hingga Rp35ribu

Dari sektor infrastruktur, dia menyarankan beli saham Jasa Marga (JSMR). Pada penutupan perdagangan Jumat, (7/2), Jasa Marga mencatat kenaikan sebesar 2,08 persen.

Kinerja Jasa Marga di kuartal III 2019 menunjukkan penurunan pendapatan sebesar 21,45 persen menjadi Rp21,51 triliun. Penurunan juga terjadi pada laba bersih yaitu sebesar 15,25 persen atau Rp1,5 persen.

Menurut laporan keuangan yang dirilis Jasa Marga, kinerja tersebut disebabkan oleh turunnya pendapatan konstruksi dari Rp20,25 triliun pada kuartal III 2018 menjadi Rp13,19 triliun pada kuartal III 2019.

Saham pilihan William lainnya adalah Telekomunikasi Indonesia (TLKM). Telkom membukukan kenaikan sebesar 0,80 persen pada penutupan perdagangan pekan lalu.

Perusahaan pelat merah tersebut membukukan pendapatan sebesar Rp102,63 triliun atau naik 3,45 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Telkom juga membukukan kenaikan laba 15,64 persen menjadi Rp16,46 triliun pada 2019.

Lebih lanjut, William menyebut saham lapis dua atau second liner belum bisa dijadikan pilihan di tengah kondisi tersebut. Ia memang memprediksikan saham tersebut punya potensi naik.

Mayoritas saham-saham yang direkomendasikannya merupakan perusahaan indeks saham LQ45 atau perusahaan berlikuiditas tinggi.

Jika dilihat, mayoritas saham blue chip atau yang direkomendasikan sepekan ke depan bergerak positif pada perdagangan Jumat (7/2). Detailnya, saham Sarana Menara Nusantara berakhir di di level Rp880 per saham dengan kenaikan 3,53 persen dan Tower Bersama Infrastructure ditutup hijau di level Rp1.225 per saham dengan kenaikan 2,08 persen.

William memprediksi saham Tower Bersama Infrastructure berpotensi menghijau pekan ini. Ia memasang target harga di level Rp1.300 per saham dan Sarana Menara Nusantara di kisaran Rp900 per saham.

"Melihat faktor harganya cukup dalam dan sudah masuk ke jenuh jual, potensi untuk rebound, saham masuk indeks saham LQ45 itu pilihan utama sementara," katanya.

William memprediksikan minggu ini IHSG dapat bertengger di angka 6.000 dengan prediksi di rentang 5.900-6.050.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyatakan kabar mengenai pengendalian Virus Corona melalui kombinasi obat Abidol dan Darunavir disambut baik oleh para investor.

"Kekhawatiran Virus Corona mulai turun, pasar saham juga ditopang oleh sektor tertentu seperti banking, properti, dan konsumsi," kata Hans Kwee.

Hans menyebut transisi bunga yang relatif rendah dan permintaan tinggi di bidang properti akan menggenjot sektor tersebut. Untuk properti, yang dimaksud adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk yang menguat sebesar 5,29 persen sepanjang pekan lalu.

Kinerja perusahaan berkode emiten BSDE ini kian cemerlang. Sepanjang 2019, perusahaan membukukan penjualan atau marketing sales senilai Rp6,5 triliun, melampaui target yaitu Rp6,2 triliun.

Sementara, pasar saham dalam negeri mulai menunjukkan geliat setelah 'meriang' terinfeksi Virus Corona. Meski belum berhasil menginjak level 6.000 namun sepekan lalu IHSG berhasil menguat 0,21 persen ke level 5.999 dari sebelumnya di level 5.940.

Para investor luar yang sebelumnya menunggu perkembangan Virus Corona di Indonesia mengalami fase jenuh beli. Pada penutupan IHSG Jumat, (7/2) investor asing membukukan beli bersih atau net buy sebesar Rp 15,99 triliun sepanjang minggu. 

Terpopuler